Pembahasan Hadits Tentang Niat
Hadits Tentang Niat
عن أمير المؤمنين أبي حفصٍ عمرَ بنِ الخطب رضي الله عنه قال :
سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول إنما الأعمل بالنيات وإنما لكل امرئٍ ما
نوى، فمن كانت هجرته إلى الله ورسولِهِ فهجرته إلى الله و رسوله، ومن كانت هجرته
لدنيا يصيبها أوٍ امرأةِ ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه. متفق عليه
"Dari amiril
mukminin Abi Hafshah 'Umar Ibnul Khattab r.a berkata, "Aku mendengar Rasulullah
s.a.w bersabda, 'Sesungguhnya amalan itu tergantung dengan niatnya. Dan
sesungguhnya segala perkara sesuai dengan apa yang diniatkan. Maka barangsiapa
yang hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan
Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya untuk dunia yang dia ingin
memperolehnya atau untuk perempuan yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya sesuai
dengan apa yang dia ingin berhijrah karenanya." Mutafaqquh 'alaihi.
Pembahasan
Hadits :
Niat secara Bahasa :
Kata 'niat' diambil dari kata نوى - ينوِى - نيّة
yang maknanya adalah :
1. القصد : maksud
2. العزم : tekad
3. إرادة : keinginan
Niat secara istilah syar'i :
Menurut Imam An Nawawi (w.676H), "Niat adalah tekad
yang muncul dalam hati untuk melakukan sebuah amalan fardhu atau selainnya."
Menurut Imam Buhuti (w.1051H), "Niat adalah tekad yang muncul dalam hati untuk
mengerjakan amalan ibadah yang bertujuan untuk ber-taqarrub (mendekatkan) diri
kepada Allah."
Kesimpulan dari 2 definisi diatas :
1. Niat berasal dari HATI
2.
Terdapat beberapa istilah yang berkaitan dengan niat : - Al Manwi : amalan yang
diniatkan - baik amalan fardhu atau selainnya - Al Manwi lahu : kepada siapakah
amalan tersebut ditujukan, yaitu kepada Allah.
Dalil Al Qur'an yang berkaitan
dengan niat sangatlah banyak. Diantara konteks dalam Al Qur'an yang menjelaskan
tentang niat, yaitu dengan menggunakan lafazh IRADAH. Contohnya firman Allah
dalam QS. An Nisa : 35
, إِن يُرِيدَا إِصْلَاحًا يُوَفِّقِ اللَّهُ بَيْنَهُمَا ۗ
إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا خَبِيرًا
An-Nisa' 4:35
وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ
بَيْنِهِمَا فَٱبْعَثُوا۟ حَكَمًا مِّنْ أَهْلِهِۦ وَحَكَمًا مِّنْ أَهْلِهَآ إِن
يُرِيدَآ إِصْلَٰحًا يُوَفِّقِ ٱللَّهُ بَيْنَهُمَآۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ
عَلِيمًا خَبِيرًا
"Jika keduanya (juru damai itu) bermaksud mengadakan
perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-istri itu. Sungguh, Allah
Mahateliti, Maha Mengenal."
Syahid-nya ada pada : يريد
Yang maknanya adalah
bermaksud/ berniat/ bertekad.
Hadits ini diriwayatkan dari 'Umar bin Khath-thab
r.a.
Kunyah beliau : Abu Hafshah
Julukan beliau : - Amirul Mukminin - Al Faruq
(pembeda antara yang haq dan batil)
Beliau masuk Islam pada tahun ke - 3
kenabian.
Wafat pada tahun 23 H pada usia 63 tahun.
Dimakamkan bertetangga
dengan Rasulullah s.a.w dan sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a.
Keutamaan beliau
diantaranya :
1. Sebagai Khalifah ke - 2
2. Termasuk dari 10 sahabat yang
dijanjikan oleh Rasulullah s.a.w masuk surga, yang diistilahkan dengan
mubasy-syiriina bil jannah.
3. Memiliki firasat yang kuat.
معاني المفردات
(Makna-makna dari kosa kata)
- إنّما : أداة الحصرِ
Huruf yang berfungsi untuk
membatasi pembahasan; atau meringkas pembahasan; atau menegaskan pembahasan.
-
أصاب - يُصيبُ : mendapatkan atau memperoleh
- الأفعال: الأعمال (ج) - العمل (م) :
perbuatan
- النيات (ج) النية (م) Memasukkan sesuai bersamaan dengan mengiringi
mengerjakannya.
- هجرة
Secara bahasa : meninggalkan dan pindah
Secara istilah
syar'i : meninggalkan tempat kekufuran dan berpindah menuju wilayah Islam karena
takut akan fitnah yang mengancam agamanya, dan menuntut dirinya untuk menegakkan
agamanya. (Ini merupakan definisi hijrah secara hissiyah)
Secara makna :
meninggalkan kebiasaan buruk, kekufuran, kemaksiatan, dosa, akhlak yang buruk
untuk berpindah kepada tauhid, sunnah, amal baik dan akhlak yang baik.
- امرِئٍ
: شخص : seseorang
- ينكِحُ : يتزوّج : menikahi
Faidah Hadist :
1. Niat merupakan
pondasi amal
Dalam teks hadits terdapat dua riwayat : إنما الأعمل بالنيات\باانية
النيات : jamak النية : tunggal
Untuk lafal niat yang tunggal, maknanya : Semua
amalan yang banyak ini ditujukan hanya kepada Allah semata.
Maka perbuatan
manusia mempunyai dua kemungkinan : diterima atau ditolak, sesuai dengan niat
dari orang yang mengerjakannya.
2. Barang siapa mengerjakan sebuah amalan (baik
fardhu atau nafilah) yang dia mengikhlaskan amalan tersebut karena Allah,
kemudian dia berharap dengan amalan yang dia kerjakan sesuai dengan sunnah
ajaran Rasulullah shalallaahu 'alaihi wasallam, maka dipastikan amalannya
diterima Allah.
Dalil QS. Al Isra : 19,
وَمَنْ أَرَادَ ٱلْءَاخِرَةَ وَسَعَىٰ
لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُو۟لَٰٓئِكَ كَانَ سَعْيُهُم مَّشْكُورًا
"Dan
barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan
sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang
usahanya dibalasi dengan baik."
Jadi barangsiapa yang menginginkan akhirat dan
dia mengerjakan amalan tersebut sesuai dengan ajaran Rasulullah shalallaahu
'alaihi wasallam atau sesuai sunnah, dan dia beriman, maka amalannya diterima.
3. Sesungguhnya di antara syarat diterimanya amal adalah IKHLASH, dimaksudkan
amalannya tersebut untuk mengharapkan wajah Allah semata (pahala akhirat).
Menurut Al Imam An Nawawi, syarat amal terbagi menjadi dua :
- Syarat sah amalan
- Syarat kesempurnaan amalan
Syarat sah amalan :
- Ikhlash
- Mutaba'ah
Dalil QS.
Al Mulk : 2,
ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ
أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْغَفُورُ
"Yang menjadikan mati dan hidup,
supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia
Maha Perkasa lagi Maha Pengampun"
"..yang lebih baik amalnya", menurut tafsir
Fudhail bin 'Iyadh adalah ikhlash dan mutaba'ah.
Syarat kesempurnaan amal :
-
Bersungguh-sungguh dalam mengerjakannya
Dalil QS. Al Baqarah : 63,
وَإِذْ
أَخَذْنَا مِيثَٰقَكُمْ وَرَفَعْنَا فَوْقَكُمُ ٱلطُّورَ خُذُوا۟ مَآ
ءَاتَيْنَٰكُم بِقُوَّةٍ وَٱذْكُرُوا۟ مَا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
"Dan
(ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkatkan gunung
(Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman): “Peganglah teguh-teguh apa yang
Kami berikan kepadamu dan ingatlah selalu apa yang ada didalamnya, agar kamu
bertakwa”."
- Bersegera
Dalil QS. Al Baqarah : 148
وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ
مُوَلِّيهَا ۖ فَٱسْتَبِقُوا۟ ٱلْخَيْرَٰتِ ۚ أَيْنَ مَا تَكُونُوا۟ يَأْتِ بِكُمُ
ٱللَّهُ جَمِيعًا ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ
"Dan bagi tiap-tiap
umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah
(dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan
kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala
sesuatu."
4. Pentingnya ikhlash sebagai poin penting dalam beramal.
Apabila
amalan dilakukan tanpa ada rasa ikhlash, maka amalan tersebut tertolak. Dalilnya
QS. Al Ghasyiyah : 3,
عَامِلَةٌ نَّاصِبَةٌ
"bekerja keras lagi kepayahan"
Menurut Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya : Amalan dilakukan tanpa rasa ikhlash
kepada Allah semata.
Dalil yang lain QS. Al Furqan : 23,
وَقَدِمْنَآ إِلَىٰ مَا
عَمِلُوا۟ مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَٰهُ هَبَآءً مَّنثُورًا
"Dan kami hadapi segala
amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang
berterbangan." Karena amal yang mereka kerjakan tanpa dilandasi rasa ikhlash.
5.
Wajibnya selalu memperbaiki niat (kepada siapa dan bagaimana niatnya) di setiap
amalan kita, dan bersungguh-sungguh untuk memperbaiki niat dengan memperhatikan
syarat-syarat amalannya (syarat sah amalan dan syarat kesempurnaan amalan),
dimana hati tidak boleh lalai, harus selalu menghadirkan dua syarat tersebut
(shahih dan kamal).
6. Amalan-amalan yang baik (ibadah-ibadah tertuju kepada
Allah) harus dengan niat yang baik juga. Niat yang baik tidak menjadikan seluruh
kemunkaran (maksiat, dosa, kekufuran, kestirikan) sebagai hal yang baik. Contoh
: niat mencuri untuk memberi nafkah, walaupun niatnya baik namun tidak serta
merta menjadikan amalan tersebut baik. 7. Sesungguhnya baiknya amalan itu tidak
cukup untuk diterima amalannya, namun bagaimana-nya cara agar amalan kita
mendapat pahala yang sangat besar dari Allah.
- Selesai -
Komentar
Posting Komentar